Selasa, 12 Mei 2009

-Setetes Darahmu Berarti Baginya-

Itulah slogan yang sering kita dengar, kita baca di spanduk-spanduk yang disponsori oleh PMI. Itulah yang mungkin bisa dibilang membuat saya dan dua teman saya lainnya berniat untuk pergi ke PMI sore tadi. Kami bertiga ( saya, Selfi, dan Sanddy) – seharusnya kami pergi ber’empat, tettapi teman saya satu lagi sedang pulkam – dengan gaya yang iyes masuk ke kantor PMI. Awalnya, kami seperti pendonor kebanyakan yang memang ingin mendonorkan darah, kami ikuti prosedurnya, mengisi form, antri di loket pendaftaran. Nah permasalahan muncul sejak di loket pendaftaran, saat kami sedang mengantri, tiba-tiba si bapak penjaga loket dengan nada bicara yang-sepertinya-mendesak-sekali, bertanya kepada kami bertiga, siapa yang bergolongan darah O,,, awalnya kami sempat bingung juga, ada apa ini, ada apa? Dan karena saya bergolongan darah O, saya pun dipanggil duluan dan disuruh masuk. Dalam hitungan waktu sepersekian detik saya masih tetap saja bingung, karena beberapa orang di sana sepertinya sedang kalang kabut. Kemudian ada bapak-bapak berseragam berkata bahwa dia sedang butuh darah yang bergolongan O. wah, saya sih langsung meng’iyakan saja, ada orang butuh saya coba membantu. Tibalah saya di bagian pemeriksaan darah. Setelah dilihat hasilnya ternyata HB saya kurang, hanya 10,6 saja. waduh saya kecewa berat. Saya tidak jadi mendonorkan darah saya, sedih juga sih, pasalnya orang yang mencari pendonor ini, memang benar-benar membutuhkannya, kata ibu-ibu saudara dari orang yang membutuhkan darah ini, si penerima donor ini sedang membutuhkan 3 liter darah dan setidaknya kurang 3 orang pendonor lagi. Mengapa dia membutuhkan darah begitu banyaknya? Karena kabarnya dia baru saja operasi, baru saja di kiret ( seperti pembersihan pada rahim begitu ). Haduh,,, kasihan sekali, saya sampai pengen nangis sendiri saat melihat ibu tadi-yang-sepertinya –agak-kecewa-juga-karena-saya-tidak-jadi-mendonorkan-darah-saya. Tapi syukurlah ada dua orang setelah saya yang dapat mendonorkan darahnya untuk saudara ibu tadi.
Hal menarik bukan hanya dari saya yang tidak jadi mendonorkan darah untuk saudara ibu tadi, ada yang lain juga. Saya seperti tereliminasi. Saya keluar bukan dari pintu ruangan pendonor tapi pintu sebelum pintu masuk ruang pendonor. Dengan perasaan kecewa saya duduk di ruang tunggu menunggu Shelfi dan Sanddy ( kali saja mereka berhasil lolos donda dan tidak tereliminasi seperti saya ). Saya menunggu mereka yang sedang check darah sambil ngelihatin ibu tadi (menyedihkan,,, dia bingung). Ehem,,, dan Shelfi memanggil saya untuk menyampaikan bahwa mereka bakalan ngece saya kalau mereka berhasil lolos seleksi donor. Haha,,, saya mah biasa aja (mungkin minggu depan baru bisa donor,iya kan?). tapi tak berapa lama kemudian, Sanddy keluar melalui pintu yang sama seperti saya tadi. Wah-wah,,, ternyata dia juga tereliminasi. Kenapa? Karena dia sedang batuk-pilek… wah ternyata batuk-pilek juga berpengaruh sekali. haha,,, saya menertawakan balik ke Sanddy, karena dia tidak jadi ngece saya gara-gara saya tidak jadi donor. Nyatanya dia sendiri juga tidak jadi… kasihan. Sekarang tinggal menunggu Shelfi. Apakah dia lolos atau tidak? Kita tunggu hasilnya beberapa saat lagi. Eng ing eng,,, ternyata, dia juga keluar dari pintu yang sama seperti kami. Wah ternyata tidak jadi ada yang di’ece ataupun mengece karena kami bertiga sama-sama tidak jadi mendonorkan darah kami ( maybe anytime we can do). Kami pun pulang dengan tangan hampa. Tanpa membawa snack dari PMI dan juga tidak meninggalkan apa-apa di PMI, tidak meninggalkan darah kami di sana. Yah sayang sekali, kami kecewa tidak bisa donor kali ini. Ehm mungkin memang kami harus pergi berempat kali ya,,, karena kan tadinya kami pergi berempat dengan teman saya satu lagi yang sedang pulkam itu, ya ya,,, jadi memang harus menunggu dia, biar bisa bareng-bareng gitu donornya… yah doaken lah minggu depan kita bisa mewujudkan hal itu… Amin,,

(bodohnya saya,,, sekalinya hampir bisa bantu orang lain kok malah gak bisa ternyata,,, gini ini akibat dari makan tidak teratur dan kurang makan sayur,,, jadi lah hal yang seharusya bisa dilakukan, malah jadi gak bisa,,, hufh,,,,)

1 komentar:

sararocks mengatakan...

Wiii gaya rek donor darah...
Sayang gagal ahaha

kalo aku sih, mbok bayar berapapun nggak akan ikut ke PMI buat donor. saia kan phobia jarum suntik, apalagi jarum buat donor segede sedotan!! ga kok, bercanda hehe

Sebenernya sih aku takut anemiaku kambuh kalo donor, jadi mending ga deh hehe


Eh mak, there's an award for you in my blog. Take it ok :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini