Selasa, 19 April 2016

Bukit Teletubies



Pasti gak asing sama yang namanya Bukit Teletubies kaan?
Iya bukit yang ada di belakang rumahnya Tinkiwinkie, Dipsy, Lala and Pooh. Acara TV jaman dahulu kala, dimana ada empat boneka berbadan tambun yang di dalamnya ada orangnya. Bukit hijau nan luas milik mereka seringkali menjadi area bermain keempat saudara – eh bersaudara bukan ya mereka?? – itu.







Hamparan hijau nan asri yang berbukit. Kurang lebih itulah gambaran dari Bukit Teletubies. Di Kalimantan Selatan juga ada Bukit Teletubies – iya, jadi sekarang apa-apa yang berwujud hamparan rumput yang berbukit, bakal disebut dengan Bukit Teletubies, macam Bukit Teletubies yang juga ada di Pegunungan Bromo – tepatnya di daerah Pelaihari.












Dari atas bukit ini – sebenernya sih namanya Bukit Rimpi – kita bisa lihat pemandangan di bawah sana yang kebanyakan adalah hutan-hutan sawit. Baru di Kalimantan ini saya lihat pohon sawit nyata banyak. Biasanya mendengar sawit hanya dari berita-berita di tipi mengenai perkebunan sawit yang begini dan begitu, pembakaran hutan di akibatkan oleh akan dibukanya perkebunan sawit dan sebagainya begitu.













Dan kalau orang dari desa macam saya, jangan sampai ya bilang begini:
”ealah ini ta bukit teletubies, di desaku juga ada.”
Eh haloooo.... memangnya cuma desa situ saja yang punya beginian. Ini biasanya yang bilang adalah orang yang jarang kemana-mana, jadi semua-semua disamakan dengan desanya. Eiitsss... tapi jangan salah, saya juga pernah begitu. Hehehe...ketika diajak pergi ke pantai, pasti pikirannya gitu-gitu aja, yaelah pantai, paling ada pasir kotor, air biru, dan lain-lain. Sekarang saya khilaf. Gak mau ah berpikiran gitu lagi.







Nikmati apa yang ada dan keindahan yang nampak itu lebih menyenangkan daripada bilang ‘kalo ini mah....’. karena dengan pemandangan yang hampir-hampir sama, tapi momen berbeda, eh itu rasanya beda juga. Enjoy your trip :)

Senin, 11 April 2016

Camping at New City


Jiaaahh keren ya namanya New City... 8-)
New City itu artinya Kotabaru...ya iyalah. Jadi, beberapa weekend yang lalu, saya dan beberapa teman kantor pergi camping ke daerah Kotabaru – masih di Provinsi Kalimantan Selatan – letaknya sekitar 247 km ke arah Timur dari Banjarbaru. Dan berada di sebuah Pulau tersendiri dan terpisah dengan Pulau Kalimantan, ya semacam Madura dengan Jawa gitu deh.

berasa kapal sendiri aja lah


Pamer sandal baruuu... heheh


Tadinya saya kira bakal main air di laut, alias berenang dan snorkeling, ternyata bukan. Bener sih main air, tapi mainnya di air terjun, tepatnya di air terjun Seratak. Jangan membandingkan satu tempat dengan tempat lainnya ya, karena setiap tempat itu memiliki keistimewaan sendiri-sendiri *ini pembelaan terhadap sedikit kekecewaan karena ekspektasi berlebih, hahahah*. Air terjun Seratak ini bisa dibilang tidak begitu besar, tapi kalau saya disuruh lompat dari atas juga kagak mau. :D
Lokasi Air Terjun Seratak pun juga tidak mudah ditempuh dengan kendaraan roda empat. Gak tetiba parkir mobil terus turun langsung ketemu sama air terjun begitu. Tapi kami harus treking dulu sekitar 40an menit lah melewati hutan-hutan. Tapi untungnya, medannya tidak seterjal saat ke Bukit Batas beberapa waktu lalu. Cukup datar dengan sedikit saja sentuhan tanjakan, jadinya saya tidak berjalan di barisan paling belakang. Iyeessss... heheh...

Trekking cantik 


ini dia Air Terjun Seratak


Sekitar dua jam kami habiskan waktu untuk bermain-main di sekitaran air terjun. Mendirikan tenda untuk berganti pakaian dan masak-masak untuk sekadar makan siang (ganjel perut, red). Foto-foto, haha hihi dan menikmati suasana air terjun di tengah hutan... aaaahhhh melow nian saya nih ah.





Camping di deket air terjun


Selepas dari Air Terjun Seratak, rencananya mau main ke Bukit Mamake dan Camping di sana mendirikan tenda. Tapi, cuaca tidak mendukung, begitu keluar dari treking Air Terjun Seratak, tidak lama kemudian hujan. Cukup deras dan lagipula kami belum mengetahui pasti lokasi Bukit Mamake tersebut.
Akhirnya, Bukit Mamake dialihkan dengan berkeliling kota Kotabaru dan makan seafood di salah satu  warung seafood di pinggir jalan – dan tetap hujan deras - . tapi, kegagalan camping di Bukit Mamake tidak mengurungkan niat untuk tetap camping, kami kembali ke arah Air Terjun Seratak, sebelum lokasi Air Terjun Seratak, sepanjang jalan itu adalah pantai dan ada salah satu pantai yang agak terawat dan memang ada beberapa cottage yang disewakan. Eits tapi kami tidak bermalam di cottage, seperti yang sudah saya bilang tadi, kami tetap CAMPING. Jadi kami mendirikan tenda – saya gak ikutan mendirikan sih, heheh – dan beneran bermalam di pantai di dalam tenda. Hahaha...
Ini pengalaman pertama saya camping di pantai, biasanya saya camping itu di hutan untuk acara survival macam diklat Paskib jaman SMA ato camping di halaman sekolah macam survival jaman Pramuka SMP.


dapet sunrise di pantai Gedambaan... yippiii!!!


take a minute and pose :D

muka bantal semua 

Mestinya, kalau camping macam gini, malam hari itu diisi dengan bikin api unggun dan kita nyanyi-nyanyi atau sharing kayak di tipi-tipi, tapi saya sendiri sudah tepar. Jadi saya gak tahu teman-teman pada lanjut nyanyi atau sharing tidak. Sungguh-sungguh tepar, pegang hape pun sudah tak kuasa.

Besoknya kita langsung cus balik ke Banjarbaru. Huaa... thank you for nice weekend mbak mas :) 






Senin, 28 Maret 2016

Danau Pengaron (2nd)

Biasanya, orang traveling itu jarang banget mengunjungi lokasi tersebut sampai dua kali atau lebih, apalagi kalau medannya bikin berpikir 2, 3, 4 kali. Tapi gak juga sih kalau buat saya. Selama yang ngajakin oke, semuanya oke dan saya lagi gak pengen mager di kosan, cus aja sih. Rintangan dan halangan terberat adalah mager di kosan. Kalau sudah di kosan kadang males kalau mau keluar-keluar lagi. Males buat ganti baju. Males buat dandan * walaupun cuma bedak-bedak tipis gitu aja *.

Setelah pergi bersama teman-teman satu angkatan, kali ini bersama para senior di kantor, saya pergi lagi ke Danau Pengaron. Bisa dibilang kunjungan pertama dan kedua itu suasana dan kondisi di lapangan tidak selalu sama, walaupun objek yang kita datangi itu sama. Contohnya saja ya, saat pertama kali saya ke Danau Pengaron, kondisi air di danau tersebut sepertinya sedang surut, jadi kami dapat mengambil gambar dan bermain-main sampai di batu yang paling rendah dan sangat dekat dengan air. Sedangkan kali ini, keadaan air di danau sedang pasang, jadi tidak bisa sebebas sebelumnya yang bisa main sampai ke bawah.







Tapi tidak semua yang pasang itu tidak baik. Ada kalanya momen itu memang harus tepat waktunya. Sebelumnya saya tidak mendapatkan gambar seperti yang saya dapat kali ini. REFLECTION!! Not perfect sih tapi not bad laaahh....







*next trip next trip!!!!

Kamis, 17 Maret 2016

Danau Riam Kanan


 Lagi-lagi akibat korban dari mbah Gugel. Saya dan teman-teman akhirnya harus membuktikan sendiri bagaimana dan dimana itu Danau Riam Kanan. Seperti yang sudah saya katakan di posting sebelumnya, bahwa explore suatu tempat atau propinsi itu memang gak cukup Cuma sehari saja. Berbeda dengan Danau Pengaron yang kemarin kami kunjungi, Danau Riam Kanan ini terletak di Desa Aranio, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar.






Danau ini memiliki luas lebih kurang 8000 Ha dengan fungsi utama sebagai PLTA satu-satunya di Propinsi Kalimantan Selatan ini. Selain itu PLTA, perannya pun penting sekali sebagai pengatur tata air, mencegah erosi dan banjir. Sebagai salah satu wisata air di Kalimantan Selatan, terdapat pula pulau-pulau kecil dan bukit-bukit yang berjajar indah mengelilingi danau. Bukannya mau sok-sok’an bagus-bagusin ini tempat, tapi ya memang begitu adanya.
Saya juga mau mengingatkan, untuk jangan lupa membawa sunblock, payung dan sebagainya yang berfungsi untuk melindungi diri dari sinar matahari langsung. Karena jujur saja, itu PANAAASSS!!!!
Kami gak cuma duduk di atas perahu dan keliling danau saja. tapi juga mengunjungi salah satu hutan, yaitu hutan pinus. Apa istimewanya? Ya istimewanya, satu pulau itu isinya Cuma hutan pinus saja dan beberapa penjual makanan. Selebihnya ya begitu-begitu saja, karena pulaunya kecil, jadi tidak begitu terasa rimbun dan penuhnya pepohonan pinus ini.








Selepas dari Pinus, kami melanjutkan untuk tracking ke atas Bukit Batas. Wooowww... saya mendadak lemah di seperempat perjalanan. Sudah lama gak jalan jauh dan menanjak, kaki saya shock tanpa adanya pemanasan. Akhirnya saya harus sering-sering beristirahat untuk mengatur napas. Hampir setiap 30 meter perjalanan saya beristirahat sejenak. Pendek ya setiap 30 meter... laaah habis mau gimana, 30 meternya menanjak. Gile ajeeee!!!
Tapi, yang namanya mau lihat sesuatu yang indah, bagus dan waaaooowww... itu memang butuh perjuangan. Sayang cuaca di atas agak mendung dan kami pun hampir kehujanan. Tapi itu tidak mematahkan semangat kami – terutama saya yang sudah ngos-ngosan gak kuat – untuk terus berjalan dan akhirnya melihat keindahan danau Riam Kanan dari atas Bukit Batas yang nampak seperti Raja Ampat KW-KWan.... hahahah.


-           

Ada kesalahan di dalam gadget ini