Jumat, 05 November 2010

Kamis Ceria 211010

Oh… saya berasa gak enak gini ini, selalu telat dalam melakukan postingan. Banyak sekali yang pengen diceritain di sini. Bukannya sibuk, tapi mau ngebuka itu rasanya berraaattt banget. Pulsa gak ada, mau nulis mood gak ada. Fiuh.

Hem, walaupun begitu, yang sekarang ini saya punya cerita lho. Beberapa minggu yang lalu, tepatnya hari Kamis 21 Oktober 2010 – eh udah kelewat jauh ya?? Hehe – saya dan my beloved best friend – Selpi – berencana buat mengunjungi beberapa tempat untuk mencari informasi dan cuci-cuci mata. Kalo menurut rincian sih seharusnya kita pergi ke LIA – tempat les bahasa inggris, mau cari informasi – sebagai kunjungan pertama. Kemudian kita ke rumah mbak Ridha – senior kuliah dulu – mau nunut scan beberapa data dan foto-foto keluarga saya jaman dahulu kala, hihi, malu saya foto jaman bahula saya dilihat J . Selanjutnya kami pergi ke Balai Pemuda menghadiri pameran lukisan. Dan rencana terakhir pergi ke Graha Pena buat cari info mengenai jalan sehat. Heemm,, tapi namanya juga rencana, bisa berubah juga, jadi rencana yang terakhir gak terlaksana deh. Beuh.

-Indonesian Channel 2010-

Sepi, sedikit orang, dan mereka tampak sibuk. Itulah suasana yang kami temui begitu masuk di lingkungan Balai Pemuda. Banyak lukisan, tapi sepi pengunjung, itu memang suasana yang biasa ada di pameran lukisan. Akan tetapi saudara-saudara, ada perbedaan di sini - dan ini yang pengalaman pertama saya – begitu kami masuk ruangan, pintu masuk tiba-tiba dibukakan oleh seorang anggota Linmas (lintas masyarakat), saya semakin masuk ke ruangan, ada seorang anggota Polisi dan beberapa anggotan Angkatan Darat. Ada juga seorang bule, ada wajah-wajah pejabat, ada beberapa wartawan. Waduh, bingung bukan kepalang saya. Ini acara apa? Saya kira saya salah masuk ruangan. Saya kira ini tadi hanya sekedar pameran lukisan saja, hingga seorang pria mendatangi kami dan menanyakan siapa kami, darimana kami, tujuan kami datang ke Balai Pemuda – BP – . kami jawab semua pertanyaannya, dan syukurlah orangnya baik hati dan tidak sombong, dia kasih kita selebaran kertas yang berisi tentang penjelasan mengenai kegiatan tersebut. Dan si mas ini namanya…. Sapa ya, lupa saya.. hihi. Yang jelas dia dari kemenlu. Dan ternyata, kenapa acara ini masih sepi sekali adalah karena ini acara belum dibuka dan hari ini baru dilakukan peresmian pembukaan dengan pemotongan pita. Heem.. dan saat itu sedang menunggu ibu Walikota Surabaya, ibu Tri Rismaharini. Lama-lama pengunjung semakin banyak, dan ruangan semakin penuh. Wajah-wajah elit berdatangan, para wartawan tiba di ruangan. Dan eng ing eng,,, ada mas-mas wartawan ganteng dari trans7, hihi… sumprit ganteng SERU!!! Haha.. saya sama Selpi sampai tersepona, eh salah terpesona J. Setelah kurang lebih selama satu jam menunggu, akhirnya ibu Risma datang juga. Dan para pelajar bule yang menerima beasiswa untuk mempelajari seni di Indonesia pun mulai memenuhi ruangan. Tanpa panjang waktu lagi, bu Risma dipersilahkan untuk memberikan sambutan, tapi ada yang lucu, bu Risma memang orang pintar, tapi saking inginnya mengungkapkan suatu kata bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inaggris, tapi karena sulit untuk mengatakannya, jadinya Bu Risma meneruskan menggunakan bahasa Indonesia saja dan si bule yang ada di sekitarnya manggut-manggut saja (gak tau deh si bule ngerti apa kagak dengan yang dikatakan bu Risma). Tapi tetep BRAVO BU RISMA!! Hihi J.  Selesai berpidato, bu Risma melanjutkan pemotongan pita. Dan saya ikut-ikutan berbaur sama para pers. Ambil posisi di depan pita, siap-siap ambil gambar bu Risma yang sedang memotong pita. Jeprat-jepret-jeprat-jepret ketika si ibu memotong pita dan plok-plok-plok-plok tepuk tangan pengunjung setlah ibu memotong pita. Si mas yang tadi menghampiri kami memberikan arahan untuk minggir ketika ibu Risma masuk ke ruangan konferensi pers. Karena kami sudah capek – walaupun sebenernya masih pengen jadi wartawan-wartawanan – kami memutuskan untuk pergi ketika ibu Risma berkeliling melihat-melihat lukisan para peserta beasiswa dan tidak mengikuti acara jumpa pers.



pemotongan pita oleh ibu Risma, dan ada pula Cak dan Ning Surabaya

serius sekali :)


pelajar yang menerima beasiswa seni


ada beberapa pejabat pula


favorit saya sekali  :*

Daaannn… jujur saya jadi seperti orang katrok sekatroknya ketika melihat kerumunan para wartawan, dan ikut berbaur dengan mereka. Berbaur dengan bule (tapi gak ngobrol sama mereka), berbaur dengan para pejabat. Wah,,, saya berasa bener-bener wah sekali saat itu. Luar biasa wah.. haha,, lebay ya saya. Sungguh lebay, saya jadi gak enak nih, maklum belum pernah kayak gini..haha *saya jadi blushing gak jelas J

-betapa berharganya setetes darahmu-

Si Selpi bilang,”kalo salah satu kegiatanku yang sudah terjadwal ada yang tidak terlaksana, pasti ada satu kegiatan pengganti.” Hem,, bener sekali apa katanya itu. Tadinya kami berencana untuk pergi ke Graha Pena tapi tidak terlaksana. Dan ketika saya baru pulang jam 4 sore sampai rumah, tiba-tiba ada sms dari seorang teman saya yang baik hati sekali namanya Bima. Tapi sayang dia lagi ada musibah, Pak Dhe-nya sedang sakit dan butuh darah yang begorlongan O, Alhamdulillah kebetulan saya juga bergolongan darah O. dan baru saja saya sampai rumah, saya langsung mandi dan minta ijin ortu buat melakukan kebaikan (tapi jangan sampae jadi ria’). Tepat jam 5 sore saya langsung beranjak dan menuju PMI Bambu Runcing Surabaya. Bersama Selpi, saya tiba di sana. Dan menurut penjelasan Bima, pak Dhe-nya terkena kelainan pada pembuluh darah aorta yang mana itu merupakan pembuluh darah besar yang ada di tubuh manusia dan tentunya membutuhkan darah yang cukup banyak untuk menangani hal ini. Dan memang benar, beliau kurang lebih membutuhkan 100 kantong darah. Satu kantong darah saja 350ml. bayangkan betapa banyaknya darah yang dibutuhkan, ini bukan seolah-olah lagi, beliau benar-benar ganti darah bila menggunakan semua darah itu. Kebetulan sudah dapat sekitar 40 kantong darah. Selain saya juga ada komting – teman baik saya yang lainnya – Alhamdulillah dia juga mendonorkan darahnya. Dan satu lagi orang yang saya ingat memiliki darah bergolongan O. dan dia adalah eng ing eng …. Hilmy, the one who bla bla bla J… setelah dihubungi dia datang ke kantor PMI.

Tiba giliran saya untuk memeriksakan darah saya. Dan… ya Allah,, kenapa harus seperti ini lagi??? Di saat ada yang membutuhkan, saya tidak bisa membantunya. Pengen nangis lagi saya. Sama seperti saat beberapa waktu yang lalu – sudah lama – saya tidak bisa LAGI. Sedihnya. Padahal masa menstruasi sudah lewat satu minggu. Dan belakangan saya sudah minum vitamin penambah darah, dan saya sudah mulai banyak makan sayur lagi. Hikz,,, tapi kenapa???????? Mungkin di lain waktu saya bisa lagi. HB saya kurang. Maaf ya Bima gak bisa bantu. Hiks.. nangis saya.

Hilmy dan my partner Kapid pun datang juga akhirnya. Tapi begitu mereka datang, ternyata darah yang dibutuhkan untuk sementara waktu sudah cukup, jadi mereka diminta datang besok lagi.

Seolah ada feeling, saya pun menghubungi Bima lagi untuk menanyakan kabar pak Dhe-nya dan berita duka datang ketika saya sedang menulis draft blog ini – dua minggu setelah hari itu – pak Dhe Bima meninggal dunia kemarin siang (3 Nopember 2010) dan akan dimakamkan siang ini. Oh God, belum sempat saya membantunya. Turut berduka ya Bima, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin.

-dibawah sinar rembulan-

Cie cie cie,,, bahasanya kayak apa aja. Hihi. Setelah dari PMI, dua kawan pria saya, Hilmy dan Kapid, berbaik hati mengajak kami makan, alasannya karena HB saya dan Selpi kurang, jadi biar nambah diajak makan. Beuh.. tapi gak pa-pa makasih ya. Gak mau komentar banyak mengenai makan malam ini, nanti jadi kemana-mana omongannya. J , yang jelas saya senang bisa bertemu mereka lagi, terakhir ketemu saat wisuda beberapa waktu lalu. Dan semoga kami dipertemukan lagi di saat yang baik. Amin.

 

Dan itu merupakan kamis padat yang pernah saya alami dengan kegiatan-kegiatan yang tak terduga. J

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini